Akhlak Mulia

Ada peristiwa menarik dalam acara talkshow ILC beberapa waktu lalu, tepatnya di bulan Februari 2020,  yang menghadirkan Menteri BUMN Eric Tohir. Ketika sedang membahas mengenai upaya menyehatkan kembali BUMN kita, pak meteri, ditanya mengenai kriteria utama seserang akan membantu dia untuk memperbaiki BUMN. Eric menjawab bahwa kriteria utama yang dicari adalah seseorang yang memiliki akhlak yang baik. Apapun yang kita lakukan, dengan sistem apapun, kalau memang akhlaknya tidak bagus ya percuma saja,” jelasnya. Jawaban ini diapresiasi AA Gym yang menyatakan bahagia mendengan jawaban pak Menteri tersebut.

Akhlak merupakan istilah yang sering kita dengar namun untuk mengetahui seseorang memiliki akhak yang mulia atau tidak mungkin agak sulit karena persepsi masing-masing orang bisa berbeda-beda. Oleh karena itu tulisan ini ingin mencoba membedah konsep akhlak ini sehingga bisa mendapat gambaran yang jelas mengenai apa sesungguhnya akhlak mulia tersebut dan bagaimana mewujudkannya. Selain itu juga akan dibahas mengenai bagaimana mendeteksi kemuliaan akhak dalam diri kita dan jika kita merasa memiliki akhlak yang kurang baik bisa mengetahui cara memperbaikinya.

Secara bahasa, akhlak adalah bentuk jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Berarti dapat dikatakan bahwa akhlak adalah perilaku yang baik/terpuji. Perilaku terpuji bisa datang dari latarbelakang budaya apapun, namun yang akan kita bahas saat ini adalah perilaku terpuji dalam perspektif agama.

Ada yang menarik dari akar kata akhlak ini, akhlak berakar dari kata khalaqa yang berarti menciptakan. Seakar dengan kata khaliq (pencipta), makhluk (yang diciptakan), dan khalq (penciptaan). Kesamaan akar kata di atas mengisyaratkan bahwa dalam akhlak tercakup pengertian terciptanya keterpaduan antara kehendak Khaliq (Tuhan) dengan perilaku makhluk (manusia). Dengan kata lain, tata perilaku terhadap orang lain dan lingkungannya baru mengandung nilai akhlak yang hakiki bila perilaku tersebut didasarkan kepada kehendak Khaliq (Tuhan). Dari pengertian ini, akhlak bukan saja tata aturan atau norma perilaku yang mengatur hubungan antarsesama, tetapi juga hubungan antara manusia dengan Tuhan dan bahkan dengan alam semesta.

Secara istilah, akhlak memiliki beberapa definisi. Salah satunya, definisi Imam al-Ghazali, “Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.” Jadi, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, yang muncul secara spontan bila diperlukan, bersifat konstan, tidak temporer, tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan lebih dahulu, dan tidak memerlukan dorongan dari luar.

Sumber dari akhlak mulia dalam pandangan islam bersumber dari akidah yang lurus dan kuat. Akidah merupakan seperangkat keyakinan yang membentuk pandangan individu terhadap dunia dan bagaimana menjalaninya. Dalam akidah islam keyakinan mengenai rukun iman yang enam, rukun islam yang lima. Fondasi dari akidah islam adalah tauhid yakni meyakini akan keesaan Allah, satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, dan memiliki sifat dan yang serupa dengan Dia. Contoh nyata dari akhlak ini bisa kita lihat di dalam diri Nabi Muhammad Saw. Sebagaimana Allah Swt sampaikan di dalam firmannya

Akhlak bisa bersumber dari nilai-nilai budaya masyarakat atau dari agama. Masyarakat yang beragama akan menampilkan akhak yang bersumber dari ajaran agama mereka. Jika kita mempelajari budaya barat saat ini, perilaku mereka terhadap sesame manusia, hewan, dan lingkungan merupakan cermin dari budaya yang mereka yakini. Sedangkan umat beragama menampilkan perilaku dari doktrin agama yang mereka yakini. Artikel ini akan membahas akhlah dari persepektif agama.

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. [Q.S. Al-Qalam: 4]. (Kamu yang dimaksud pada ayat ini adalah Rasulullah SAW).

Acuan dari budipekerti agung tersebut adalah Al Quran, sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah ra. Ketika ditanya mengenai akhlak Rasulullah.

Hisyam bin Amir pernah bertanya kepada Aisyah RA tentang akhlak Rasulullah SAW. Aisyah menjawab, “Akhlak Nabi SAW adalah Alquran” (HR Muslim).

Jadi ketika kita berbicara mengenai budipekerti yang dikehendaki oleh Sang Pencipta maka tengoklah apa kata Al Quran mengenai akhlak kepada Allah Swt, Rasulullah, sesama manusia dan lingkungan.

Setelah islam dan imannya kokoh dalam bingkai aqidah maka akan melahirkan bentuk dan perilaku ibadah yang  tekun. Tidak hanya ibadah mahdah saja yang dilakukan namun juga ibadah ghairu mahdah. Ibadah mahdah adalah ibadah yang tata caranya telah dijelaskan dan dicontohkan secaara rinci oleh rasul sedangkan ibadah ghairu mahdah adalah Ibadah tambahan yang termasuk di dalamnya muamalah duniawiyah. Jika seseorang telah memiliki akidah yang lurus dan kemudian membuahkan perilaku badah yang baik maka konsekuensinya adalam akan muncul perilaku utama dalam kehidupan dia atau yang disebut sebagai akhlak mulia. Seseorang yang memiliki akhlak mulia akan memperlakukan semua yang terkait dengan dirinya dengan perlakukan yang terbaik, baik kepada tuhanya, para utusannya, kelaurga, teman, masyarakat, dan lingkungan sekitarnya.

Seharusnya jika seseorang beragama sungguh-sungguh maka otomatis akhlaknya akan mulia. Keshalihan individu seharusnya melahirka keshalihan sosial. Namun pada kenyataanya tidak selalu demikian. Banyak kita jumpai orang-orang yang ibadahnya bagus namun tidak tecermin dari perilakunya. Masih saja melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan tuntunan agama. Pada kondisi tersebut kita dapat mengatakan bahwa  ibadahnya belum bisa menjadikan perilaku kesehariannya sebagai perilaku mulia.

Imam Al Ghazali mengatakan jika ada kontradiksi seperti itu maka bisa dikatakan yang bersangkutan memiliki penyakit dalam jiwanya. Sumber penyakit dalam jiwa adalah kecintaannya kepada selain Allah Swt. Maksudnya jika ada yang mendominasi pikiran dan jiwa kita selain Allah Swt maka menurut pandangan agama, dapat dikatakan jiwa kita sedang mengalami sakit.  Di dalam surat At Taubah 9: 24 Allah Swt berfirman:

Katakanlah: “jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

Seringkali penyakit jiwa ini tidak disadari dan diketahui oleh si sakit. Si sakit tidak tahu bahwa dia sakit, sehingga tidak ada usaha untuk mengobati penyakit jiwanya. Kalaupun diberi obat tidak ada minat untuk menggunakan obat tersebut untuk menyembuhkan penyakitnya tersebut. Atau jika tau bahwa orang tersebut sakit namun enggan untuk berobat atau meminum obat yang diberikan oleh dokter. Di dalam perspektif agama, penyakit jiwa obatnya adalah ulama. Namun saat ini ulama yang benar-benar mengerti cara mengobati hatipun sukar untuk mencarinya, sehingga bertambah-tambah parah sakit jiwanya.

Namun jangan khawatir, jika kita merasa jiwa kita sakit ada indikator sederhana yang bisa digunakan untuk mengetahui bahwa jiwa kita mulai sehat kembali yaitu diri kita mulai ringan untuk menunaikan hak Allah kepada semua yang mendominasi pikiran kita. Misalnya saja jika pikiran kita didominasi untuk mengumpulkan harta, maka indikator sembuhnya jika kita dari penyakit harta ini adalah dengan mengeluarkan harta berupa zakat dan sedekah.

Jadi kita menerapkan ketentuan agama dalam berinteraksi dengan keluarga, anak, anak, saudara, istri, harta kekayaan dan perdagangan yang kita usahakan. Jika kita berhasil melakukannya dan menuaikan hak dari setiap sumber penyakit jiwa tersebut dengan baik maka insyaallah jiwa kita mulai sehat kembali. Kata kunci untuk pelaksanannya adalah istiqomah. Usaha tersebut perlu dijalankan terus menerus walaupun kondisinya sulit.

Namun tidak banyak orang yang berhasil. Ada yang semangat di awal namun kembali mengendur di kemudian hari. Ada yang terus berusaha istiqomah tetapi senantiasa jatuh berkali-kali. Walapun telah berusaha tapi dari keluarga, harta, dan bisnis di dalam pikiran dan jiwa masih tetap ada.  Maka ImamAl Ghazali menuntunkan empat cara untuk memperbaiknya:

  1. Mencari seorang guru/ulama yang mengerti dan berpadangan luas mengenai ilmu syariat dan ilmu jiwa dan mengerti cacat tersebunyi. Lalu turuti semua nasihatnya. Secara ringkas, jadilah murid dari yang stia walapun ktai tahu sulit untuk mencari guru pendidik seperti itu
  2. Carilah sahabat karib yang jujur dan berpadangan luas lagi beragama. Mintalah kepada teman tersebut menunjuki kita, mana perangai atau perbuatan atau akhlak kita  yang buruk baik lahir maupun batin, cara ini yang selalu dilakukan oleh orang-orang besar dan para ulama islam yang ternama
  3. Ambil pelajaran dari para haters kita. Karena para haters tersebut mengetahui benar kejelekan orang yang dibencinya. Orang arif bijaksana akan dapat melihat kebenaran yang disampaikan oleh orang yang membencinya dan mengoreksi perilakunya dengan cara menyisihkan mana yang benar dan mana yang hoax.
  4. Bergaul seluas mungkin dengan manusia dan identifikasi mana yang disukai banyak orang maka kita bisa menirunya, seperti berkata benar, profesional dsb. Disamping itu juga memahami apa yang tidak disukai oleh orang banyak, seperti korupsi, mark-up, dsb dan kemudian kita menjauhinya.

Sebagai penutup saya ingin sampaikan kisah proses perbaikan diri untuk mewujudkan akhlak mulia.

Ditanya Nabi Isa Al Masih ‘Alaihissalam, Siapakah yang mendidik Tuan?Beliau menjawab, Tidak ada guru yang mendidiku, Cuma aku melihat keborodan dan kesalahan orang yang menambah kecacatan/kejelekan dirinya, lalu aku jauhi kejahilan itu.



Categories: artikel

%d bloggers like this: