Mendisrupsi Market

Jika kita berada dalam satu industri atau memutuskan untuk masuk ke industri baru, dimana market telah dikuasai oleh para pemain besar dan hanya menyisakan segmen-segemen yang menghasilkan keuntungan kecil, apa yang harus kita lakukan? Dalam bisnis, apa yang seharusnya kita lakukan tujuannya jelas yakni menghasilkan profit yang besar di tengah persaingan yang ada. Secara umum para pebisnis akan melakukan salah satu dari tiga strategi yang dikembangkan oleh Porter, yaitu: cost leadershipdifferentiation, atau focus.

Namun ada pendekatan lain yang bisa dipertimbangkan oleh para pebisnis yakni dengan mendisrupsi market. Meminjam teori disruptive innovation yang dikembangkan oleh Clayton M. Christensen, kita dapat mulai mendisrupsi market dengan melakukan pemetaan terhadap segmen market yang ada. Biasanya segmentasi market didasarkan pada kondisi georgrafi (desa/kota/sub urban), demografi (gender/usia), perilaku (pola pembelian/pola konsumsi/gaya hidup), psikologi konsumen (kepribadian/opini/values).

Ketika sudah memahami peta segmen market, biasanya kita akan tahu siapa saja para pemain yang melayani setiap segmen market, dan para pemain utamanya. Para petahana tersebut secara alami akan cenderung melayani segmen market yang dipandang memberikan keuntungan yang tinggi. Mereka akan melakukan inovasi secara terus menerus agar produk mereka dapat terus memenuhi kebutuhan dan keunginan konsumen pada segemen tersebut. Konsekuensinya para petahana tersebut menjadi kurang perhatian terhadap segmen market yang lain. Kondisi inilah yang menjadi pintu masuk untuk mendisrupsi market yang ada.

Jika kita telah memahami konstelasi para pemain utama di pasar dan yang menjadi titik fokus mereka, maka kita bisa mengambil fokus pada segmen yang tidak menjadi konsen utama para petahana, kita petakan model bisnis yang ada saat ini. Eksplorasi gap yang ada dan kemudian kita kembangkan model bisnis yang baru yang lebih efisien dan mampu menghasilkan produk lebih berkualitas. Proses ini tentu saja tidak mudah, butuh perencanaan yang matang dan eksperimen yang cukup.

Model bisnis baru akan menghasilkan produk yang memiliki kualitas lebih baik dibanding para pesaing. Langkah selanjutnya adalah mengeksekusi model bisnis tersebut dan kemudian meluncurkan produk tersebut ke market sesegera mungkin. Pada awalnya para pemain utama di market tidak akan menghiraukan langkah yang dilakukan oleh para disruptor market ini sampai mereka sadar bahwa pangsa pasar mereka tergerus karena para pelanggan mereka mulai beralih kepada produk baru yang ditawarkan. Pada saat itu para petahana akan mulai fokus untuk mengimbangi produk baru tersebut. Mereka akan mengembangkan bisnis yang sama untuk menahan migrasi para pelanggan mereka. Namun sebetulnya para petahana telah kalah dalam timing. Walapun telah kalah secara timing, belum tentu mereka akan kalah dalam siklus bisnis yang akan dilalui.

Apa yang bisa dilakukan para disruptor market selanjutnya? Mereka bisa melakukan sustanability innovation, mengembangkan produk yang telah mereka hasilkan secara terus-menerus untuk memastikan produk tersebut memiliki daya kompetitif terhadap para pesaingnya.

Jika kita coba renungkan, maka strategi disrupsi inovasi ini bukan membicarakan tentang produk apa yang bisa mendisrupsi market juga bukan mengubah model bisnis yang ada saat ini dengan model bisnis yang baru, menggunakan teknologi informasi terkini, namun lebih jauh dari itu yakni sebagai sebuah proses yang terus menerus agar mampu menjadi pemain utama di dalam market dimulai dari segmen pasar yang diabaikan oleh para pemain utama.



Categories: artikel

Tags: , , , , ,

%d bloggers like this: