Bekal yang Perlu Disiapkan untuk Memulai Usaha Sendiri

Shall I start a business when I do not have any experience? – WBIUS – World  Business Institute at the United States
sumber: wbius.com

Ada beragam alasan atau motivasi bagi seseorang yang memutuskan untuk memulai usaha sendiri. Bagi beberapa orang, memutuskan untuk memulai usaha sendiri disebabkan oleh keinginan untuk menjalankan ide bisnis yang memiliki manfaat besar bagi orang lain. Ada juga yang termotivasi karena ingin menjadi bos bagi dirinya sendiri. Mereka menyiapkan formula bisnis atau produk yang diyakini bisa bersaing dengan produk sejenis di pasar. Namun, mungkin sebagian besar motivasi seseorang untuk memulai usaha sendiri adalah perasaan jenuh terhadap pekerjaan yang selama ini atau dipaksa okeh keadaan dan kemudian ingin mengubahnya menjadi bekerja untuk diri sendiri.

Namun demikian, memiliki motivasi belumlah cukup sebagai bekal untuk memulai usaha sendiri. Disamping motivasi, seseorang yang ingin memulai usaha sendiri perlu memiliki ide yang original, pengetahuan yang mendukung untuk realisasi ide bisnis tersebut, orientasi untuk berwirausaha, dan dukungan lingkungan sosial.

  1. Ide bisnis original. Ide bisnis yang original bukan berarti sebuah ide yang benar-benar baru, namun bisa berupa ide yang didapat setelah melakukan riset yang mendalam mengenai bisnis yang akan ditekuni. Memahami perubahan lingkungan bisnis dan kemudian bandingkan kelebihan dan kekurangan bisnis yang sudah ada saat ini adalah cara yang paling mudah untuk mengidentifikasi ide bisnis baru yang original. Identifikasi ide bisnis original juga bisa dilakukan dengan konsep sederhana yakni Amati, Tiru, dan Modifikasi (ATM). Kita bisa memulai dengan mengamati bisnis yang menarik bagi kita, kemudian kita tiru dengan membuat model bisnis yang sama dan ditambahi fitur atau layanan yang belum dimiliki oleh bisnis sebelumnya.
  2. Pengetahuan dan teknologi. Pengetahuan mengenai proses bisnis dan teknologi yang digunakan juga penting untuk dikuasai. Pengetahuain bisnis ini hendaknya dimulai dari pemahaman mengani “customer pain” dari produk yang akan kita tawarkan. Kesulitan yang dirasakan oleh pelanggan terhadap produk yang ada saat ini dan mereka diprediksi mau untuk beralih atau mau membayar lebih untuk menggunakan produk yang kita hasilkan. Gabungan pemahaman antar ide bisnis original dan “customer pain” inilah yang kemudian menjadi dasar dalam mencari pengetahuan dan teknologi yang tepat untuk memproduksi dan mendeliveri produk yang akan dihasilkan. Sebagai contoh; ide bisnis untuk jasa angkut pindahan rumah profesional. Ide ini didapat dari pemetaan layanan jasa angkut pindahan rumah yang benar-benar memuaskan masih jarang dijumpai. Konsumen juga sering mengeluhkan kondisi barang yang dipindah seringkali mengalami lecet atau rusak karena benturan. Berdasarkan identifikasi ini maka jika seseorang ingin menjalankan bisnis angkutan pindahan rumah yang profesional, perlu mengumpulkan informasi dan teknologi yang bisa menghasilkan layanan yang memenuhi ekspektasi konsumen.
  3. Orientasi untuk berwirausaha. Jika seseorang telah memutuskan untuk menjadi pengusaha, maka ada beberapa sikap dasar yang harus senantiasa dipupuk. Ada tiga sikap dasar yang harus dimiliki oleh pebisnis.
    • Pertama adalah keberanian mengambil risiko. Dalam berbisnis yang perlu dipegang adalah ketaatan pada aturan, baik formal maupun informal. Ketaatan terhadap aturan adalah mutlak karena dampak terhadap pelanggaran aturan jauh lebih besar bagi bisnis dibanding manfaat yang didapat. Di dalam koridor aturan itulah bisnis dijalankan. Namun demikian, dalam menjalankan bisnis apalagi bisnis rintisan, maka pengusaha akan menjumpai berbagai kondisi yang menuntut pengusaha untuk segera mengambil keputusan agar peluang untuk mendapatkan keuntungan tidak berlalu begitu saja. Setiap pengambilan keputusan bisnis yang diprediksi menghasilkan keuntungan tinggi pasti memiliki potensi risiko sepadan yang harus ditanggung. Oleh sebab itu sikap yang harus dimiliki oleh seorang pengusaha adalah harus berani mengambil risiko tersebut setelah memahami benar mitigasi risiko yang akan terjadi.
    • Kedua adalah sikap inovatif. Desain bisnis yang kita rancang didasarkan pada serangkaian asumsi yang seringkali menjadi kurang relevan ketika model tersebut diimplementasi. Akibatnya, pengusaha akan menghadapi serangkaian hambatan dan tantangan situasi yang belum pernah diprediksi sebelumnya. Pada kondisi seperti ini pengusaha perlu mengembangkan sikap inovatif, yaitu berusaha secara terus menerus mencari terobosan agar produk yang dihasilkan dapat terus bisa dikomersialisasi.
    • Ketiga adalah sikap proaktif. Menjadi pengusaha tidak boleh memiliki sikap pasif atau menunggu peluang bisnis datang. Seorang pengusaha harus memiliki sikap proaktif atau “jemput bola”, melakukan beragam inisiasi usaha yang terkait dengan bisnis yang dijalani agar terbuka peluang bisnis yang baru atau peningkatan kualitas. Tidak ada hari, bagi pengusaha, selain terus mencari peluang bisnis dan feedback dari pelanggan untuk meningkatkan mutu produk atau layanan.
  4. Dukungan lingkungan sosial. Sebelum memutuskan untuk memulai usaha sendiri. Calon pengusaha perlu bergabung dengan komunitas usaha sejenis agar memahami struktur bisnis yang ada dan penyerapan pengetahuan dan teknologi dapat berlangsung dengan baik. Selain itu pengusaha pemula juga membutuhkan relasi yang terus dapat menguatkan mental untuk terus berusaha merintis usaha baru. Tidak sedikit pengusaha yang tidak berlanjut usahanya karena tidak memiliki dukungan sosial yang cukup.

Demikianlah empat modal dasar yang perlu disiapkan bagi calon pengusaha yang agar berhasil merintis usaha barunya dengan baik dan sukses mengembangkan bisnis seperti yang telah direncanakan.



Categories: artikel

Tags: , , , , , , ,

%d bloggers like this: